Senin, 15 November 2010

Lesson Learned

November 15, 2010

"You'll never know you're ready until you face it."


Sabtu lalu, sepulang dari panti Candra Naya, sekitar pukul 22.00 saya berjalan bersama seorang teman untuk kembali ke rumah. Tak dinyanya dalam perjalanan tersebut saya bertemu dengan dia yang namanya tak boleh disebut. Sepertinya beliau sudah melihat saya dari kejauhan dan menyadarinya. Dan seperti biasanya juga, beliau pun menekuni hp-nya untuk menghindari komunikasi langsung dengan saya. Tak ingin beliau mengira yang tidak-tidak, saya pun menyapa beliau dengan sikap yang ceria dan ramah (boleh dikatakan cukup berlebihan malah). Reaksi beliau? Lagi-lagi saya harus katakan seperti biasa, hanya mengangguk dan melihat ke arah teman saya! Entah apa maksudnya. Dalam hati saya berpikir mungkin saya hanya berprasangka buruk saja. Mungkin beliau melihat ke arah saya dan mungkin saja hal itu tidak saya sadari karena gelapnya malam. Ya, mungkin.

Namun saya pun tidak bisa tidak bertanya-tanya dalam hati tentang sikapnya yang selalu seperti itu saat kami bertemu. Selalu menghindar, berpura-pura tidak melihat, atau berpura-pura sibuk melakukan sesuatu. Di dalam hati saya juga berpikir, apa salah saya? Bila ada undang-undang di negara ini yang memperbolehkan seseorang atau pihak tertentu untuk bersikap tidak menyenangan pada pihak lain, sayalah orang pertama yang paling layak untuk melakukan hal yang demikian kepada beliau! Semua itu saya katakan tentu saja bukan tanpa alasan. Apa yang pernah beliau lakukan dan katakan saya rasa lebih dari cukup untuk membenarkan sikap saya yang tidak semena-mena kepada beliau. Tapi kembali pada kenyataan bahwa hati saya sudah pulih, menjadi suatu hal yang absurd bagi saya untuk melakukan hal yang beliau lakukan pada saya. Bukannya saya tidak punya alasan. Saya memilih demikian. Saya tidak membencinya (lagi). Jadi buat apa saya harus menambah beban saya dengan memperlakukan beliau layaknya seorang musuh? Meskipun demikian, dalam hati saya tetap bertanya-tanya mengenai sikap beliau yang demikian. Mengapa setiap kali kami berjumpa beliau selalu bersikap demikian? Apakah ada sikap saya yang menyakiti hatinya (sepanjang yang saya ingat sih tidak ada)?

Dua hari setelah pertemuan itu, dalam sebuah pembinaan seorang teman membagikan sebuah cerita tentang keterbukaan. Mendengar kisah itu, saya pun kembali teringat luka yang pernah ditorehkan oleh dia yang namanya tak boleh disebut itu. Bukan hanya penyebab luka itu yang saya ingat, melainkan juga rasa perih luka tersebut dan mengapa luka tersebut semakin terasa sakit. Fakta bahwa saya tidak pernah punya kesempatan (atau lebih tepatnya keberanian) untuk mengungkapkan rasa sesak saya saat itu kepada orang yang bersangkutan kembali mengisi pikiran saya. Bagaimana saya tidak pernah menyampaikan kepada beliau bahwa beliau telah berbuat salah kembali mengingatkan saya akan rasa sesak itu. Dan fakta bahwa beliau tidak pernah menyampaikan permintaan maaf yang selayaknya kepada membuat hati saya kembali mengerut karena merasa kecut.

Sudah lama saya mengubur dalam-dalam semua itu sambil berharap tidak akan pernah mengingatnya lagi. Namun apa yang saya alami selama dua hari belakangan kembali memicu ingatan saya akan pengalaman pahit setahun yang lalu tersebut dan mempertanyakan kembali apakah memang saya sudah memaafkannya. Ketika dirunut-runut kembali, mulai dari pertemuan tak sengaja kami hingga pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sempat mampir ke kepala saya, saya dapat menyimpulkan bahwa saya sudah memaafkannya. Sudah tidak ada ruang lagi di dalam hati atau pikiran saya untuk memikirkan apa dan mengapa. Fakta bahwa pertemuan kami malam itu terjadi di sekitar pemukiman saya mengindikasikan sesuatu, yaitu ada kemungkinan malam itu beliau baru saja kembali dari mengantarkan pulang wanitanya yang baru. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengganggu diri saya lagi. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, ketika saya merasa belum siap untuk menerima kenyataan bahwa beliau sudah melanjutkan hidupnya. Sekarang, apapun yang beliau lakukan dan dengan siapapun beliau melakukannya sama sekali sudah tidak mengganggu saya. Ya, saya tidak akan pernah tahu apa respon saya atau bagaimana rasanya sampai saya menghadapinya sendiri. And how you respond to that reflects what's really going on in your heart.

.:snm:.

only reminds me of you - mymp

I see you, beside me
It's only a dream
A Vision of what used to be

The laughter, the sorrow
Pictures in time
Fading to memories

How could I ever let you go?
Is it too late to let you know?


I try to run from your side
But each place I hide
 
only reminds me of you

When i turn out all the lights
Even the night
only reminds me of you


I needed my freedom
That’s what I thought
But I was a fool to believe

My heart lied when you cried
Rivers of tears
But I was too blind to see

Everything we’ve been through before
Now it means so much more


So come back to me
I'm down on my knees
boy can’t you see...


..only reminds me of you..
-hp-

Senin, 08 November 2010

MARI KEMBALI NGELABIL !!

sekian minggu para pesonil vakum dalam menunjukkan eksistensi kelabilannya di dunia maya..
terhitung 10 hari lebih kami tenggelam dalam realita kehidupan
kami BERHENTI BERIMAJINASI dan MENGABAIKAN SENSIVITAS PERASAAN kami ..  (oke..sepertinya ini mulai lebay..)


namun, saat ini masa2 itu telah lewat
kami memiliki waktu 7 minggu lagi ngelabil nonstop sebelum berhadapan dgn realita profesi kami sebenarnya.


dengan demikian, 
AYOOOO PUAS-PUASIN NGELABIL selama masih single (lhooo?!)

-f-

Selasa, 02 November 2010

TRUE LOVE...

Kenapa harus ada kata "JATUH" di depan kata "CINTA"??
apa CINTA identik dengan MUSIBAH dan TERLUKA??

kenapa harus ada kata "MATI" di belakang kata "CINTA"??
apa CINTA selalu hadir bersama KESEDIHAN dan AIR MATA???

tapi,, yang perlu diyakini...
CINTA ILLAHI tak akan ada MUSIBAH, TERLUKA, KESEDIHAN dan AIR MATA..
yang ada hanyalah CINTA HAKIKI untuk HIDUP dan MATI...

-hai-